Menumbuhkan Rasa Empati melalui Bahasa

Bahasa sering kali menjadi hal yang dianggap remeh. Masyarakat Indonesia sering menganggap bahwa belajar bahasa adalah hal yang mudah, dan menilai bahwa orang yang mengambil jurusan bahasa di bangku kuliah adalah orang yang enggan repot dan hendak lulus dengan cepat. Pada kenyataannya, mempelajari bahasa, terutama bahasa asing, dapat menumbuhkan rasa empati seseorang dan mencegah dirinya menjadi ‘robot’ industrialisasi.

Pada saat seseorang mempelajari bahasa, rasa empati orang tersebut secara tidak langsung juga berkembang. Bahasa merupakan salah satu bagian dari ilmu humaniora. Oleh karena itu, terdapat nilai-nilai humanisme pada bahasa. Mempelajari bahasa tidak hanya memperkaya pengetahuan tata bahasa dan kosakata, melainkan menambah pengetahuan seseorang mengenai budaya dan nilai-nilai lain dari bahasa yang sedang dipelajarinya. Sebagai contoh, saat seseorang mendalami bahasa Inggris, dia akan mengetahui bahwa bahasa Inggris lebih mementingkan gender daripada usia. Berbeda dengan bahasa Indonesia yang memiliki tingkat kesantunan hierarkis, yaitu mengutamakan urutan tingkatan atau jenjang. Kata ‘brother’ dan ‘sister’ yang berarti ‘saudara laki-laki’ dan ‘saudara perempuan’ mengindikasikan bahwa hubungan keluarga dalam bahasa Inggris lebih mengutamakan gender yang dimiliki oleh saudaranya. Sementara dalam bahasa Indonesia, hubungan saudara ditunjukkan secara vertikal pada kata ‘kakak’ dan ‘adik’. Hal ini menjadi nilai yang harus dapat dipahami oleh baik pembelajar bahasa Inggris atau pembelajar bahasa Indonesia, agar dapat menyesuaikan kesantunan yang harus diberikan pada saat mengaplikasikan kata-kata tersebut.

Nilai-nilai yang terkandung dalam bahasa juga dapat mencegah seseorang menjadi korban industrialisasi yang hanya mengikuti perkembangan dan tuntutan zaman tanpa memedulikan sisi kemanusiaan. Tuntutan hidup dan kebutuhan yang terus ada terkadang menjadikan seseorang sebagai mesin uang yang hanya tertarik untuk mencari uang sebanyak-banyaknya sehingga dapat menutupi kebutuhan hidupnya. Agar dapat bertahan hidup dan terus bekerja, mereka merasa harus memperbaiki dirinya dengan mengikuti perkembangan zaman dan teknologi. Akan tetapi, dalam proses tersebut, mereka acap kali melupakan kodrat awal untuk menjadi manusia seutuhnya. Pada dasarnya, manusia merupakan makhluk sosial yang perlu bekerja sama dengan orang lain untuk mencapai tujuannya. Bahasa merupakan alat yang digunakan manusia untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri. Oleh karena itu, setiap insan memerlukan bahasa agar dapat menyelaraskan hidupnya. Bahasa memuat nilai filsafat, sastra, dan seni yang dapat menjadikan orang yang mempelajari bahasa tersebut sebagai manusia seutuhnya. Dengan demikian, bahasa dapat membantu seseorang memenuhi tuntutan zaman dengan tetap menggunakan pikiran dan perasaannya.

Sebagai simpulan, bahasa yang merupakan bagian dari ilmu humaniora memiliki peranan penting dalam membentuk karakter manusia agar dapat menjadi manusia yang memiliki perasaan dan menggunakan pikirannya. Meskipun sering dianggap sebagai hal kecil dalam perkembangan industri saat ini, bahasa masih mempunyai kedudukan tersendiri. Dengan bahasa, manusia dapat mempertahankan kodrat awalnya, yaitu menjadi makhluk yang berakal budi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *